5 Teori Perkembangan Peserta Didik Menurut Para Ahli
Teori perkembangan peserta didik merupakan teori yang harus diketahui oleh seorang pendidik baik itu seorang guru, dosen, kepala sekolah ataupun penyusun kurikulum.
Dengan mengetahui teori perkembangan peserta didik diharapkan peran kita sebagai seorang guru ataupun pengajar dapat berjalan dengan efektif dan tidak terhambat.
Selain itu kita juga dapat mengaplikasikan teori-teori perkembangan peserta didik tersebut dalam perencanaan ataupun proses pembelajaran. Tujuannya adalah agar peserta didik mampu menyerap pelajaran dengan baik sesuai tahapan perkembangan mereka.
Perlu kita ketahui bahwa kebutuhan dan kemampuan peserta didik itu berbeda di setiap tahap perkembangannya.
Oleh karena itu kita sebagai guru sangat perlu mempelajari teori perkembangan peserta didik agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat menyesuaikan tingkat perkembangan mereka.
Nah, apa saja teori perkembangan peserta didik yang harus diketahui oleh seorang guru? Berikut ini macam-macam teori perkembangan peserta didik menurut para ahli :
A. Teori Psikosial Erikson
Teori perkembangan yang pertama adalah teori psikososial yang dikembangkan oleh Erikson. Erikson membagi tahapan perkembangan peserta didik berdasarkan usianya menjadi 8 tahapan :
1. Pada Usia 1 Tahun : Kepercayaan vs Kecurigaan
Pada tahap ini bayi belajar untuk percaya pada orang lain yang merawatnya dan memenuhi kebutuhannya. Bayi berperilaku berdasarkan dorongan kepercayaan dan ketidakpercayaan terhadap orang sekitar. Apabila kepercayaan dasar ini tidak terpenuhi maka ia tidak akan memiliki kepercayaan terhadap orang tersebut.
2. Pada Usia 2 Tahun : Mandiri vs Malu/Ragu
Pada tahap ini balita belajar melakukan
kehendaknya secara mandiri, seperti berjalan, berdiri, bermain, minum, dan sebagainya. Jika kesempatan untuk melakukan sesuatu secara mandiri ini tidak tercapai maka ia akan menjadi malu dan ragu.
3. Pada Usia 3-6 Tahun : Inisiatif vs Rasa Bersalah
Pada tahapan ini anak mulai memiliki rasa inisiatif untuk melakukan sesuatu. Tetapi karena terbatasnya kemampuan adakalanya mereka gagal dalam melakukan apa yang menjadi rasa inisiatifnya sehingga ia merasa bersalah.
4. Pada Usia 7 Hingga Pubertas : Rajin vs Renda Diri
Pada tahap ini anak atau peserta didik mulai aktif mempelajari lingkungannya. Keinginan untuk mengetahui dan berbuat terhadap sekitarnya sangatlah besar. Mereka ingin menjadi kompeten dalam melakukan sesuatu yang dihargai. Namun, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan maka kadang kala ia mengalami hambatan dan kegagalan. Sehingga apabila hal ini tidak tercapai maka mereka akan merasa rendah diri.
5. Pada Usia Remaja : Identitas vs Kebingungan
Pada tahapan ini remaja atau peserta didik mulai mencari identitas dirinya. Ketika mereka berada dalam kelompok sosial mereka akan mencari peran mereka dalam kelompok tersebut. Apabila ia tidak menemukannya ia akan kebingungan tentang identitas tentang diri mereka.
6. Pada Usia Dewasa Awal : Keintiman vs Keterkucilan
Pada tahapan usia dewasa awal
seseorang mulai memiliki kecenderungan untuk memulai membina hubungan yang
intim dengan orang-orang tertentu. Menurut teori Erikson ini orang dewasa tidak akan bisa membangun hubungan mesra dengan lawan jenis jika identitas mereka pada masa remaja belum ditemukan.
7. Pada Usia Dewasa Madya : Bangkit vs Stagnan
Pada tahap ini orang dewasa telah
mencapai kematangan perkembangannya. Pada tahap ini orang dewasa sudah mampu
memprioritaskan hidupnya untuk keluarganya. Selain itu orang dewasa pada tahap ini sudah memiliki kompetensi yang cukup banyak. Meskipun demikian, tidak semua kompetensi mampu ia kuasai. Sehingga jika hal ini tidak mampu dilakukan maka ia akan berada pada tahap stagnan atau tidak berubah.
8. Pada Usia Lansia : Integritas vs Putus Asa
Pada tahap yang terakhir seorang
lansia telah memiliki kemapanan. Seorang lansia telah memiliki integritas
pribadi. Semua yang dikaji dan didalami sudah menjadi pribadinya. Bisa saja ia
masih memiliki beberapa keinginan dan tujuan akan tetapi karena usianya yang
sudah lanjut maka akan sangat sulit mencapainya. Sehingga adakalanya muncul
rasa putus asa.
B. Teori Konstruktivisme Piaget
Teori konstruktivisme yang digagas oleh piaget merupakan teori perkembangan peserta didik yang sering digunakan dalam dunia pendidikan. Berikut tahapan perkembangan anak atau peserta didik menurut teori konstruktivisme piaget :
Sensorimotor : Lahir sampai 2 Tahun
Pada tahap ini kemampuan kognitif pada bayi berkembang melalui proses pengindraan yang dilakukannya. Melihat, menyentuh, dan sebagainya dilakukan untuk memahami lingkungannya.
Praoperasional : Umur 2-6 Tahun
Pada usia ini, anak mulai memahami sesuatu melalui simbol. Baik itu berupa huruf, angka, ataupun isyarat tertentu.
Operasional Kongkret : Umur 6-12 Tahun
Pada usia ini, anak mulai mampu menalar secara logis. Mereka dapat mengombinasikan, memisahkan, menyusun, dan mengubah benda dan objek.
Operasional formal : Umur 12-19 Tahun
Pada masa remaja mereka mulai mampu berpikir sistematis. Dan mereka juga sudah mampu memikirkan hal-hal yang abstrak.
C. Teori Sosiokultural Vygotsky
Menurut Vygotsky faktor biologis dan faktor sosial itu dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik. Ia juga berpendapat bahwa perkembangan peserta didik juga dipengaruhi oleh budaya.
Bukti bahwa perkembangan peserta didik dipengaruhi oleh budaya adalah apabila dalam budaya di sekitar anak tersebut menganggap penting kemampuan matematika maka anak ataupun peserta didik akan terdorong untuk mengembangkan kemampuan matematikanya.
Diantara kontribusi Vygotsky yang paling penting adalah konsep ZPD atau zone of proximal development. ZPD ialah zona yang dapat dicapai oleh anak secara mandiri (tanpa bantuan orang lain) dengan zona yang dapat dicapai oleh anak bila dibantu oleh orang lain.
Sebagai contoh adalah ketika anak belajar untuk berjalan. Ketika orang tua mengajari anak berjalan maka orang tua tidak sepenuhnya membantu anak untuk berjalan. Namun di sisi lain orang tua tidak pula sepenuhnya membiarkan anak belajar berjalan sendiri. Akan tetapi anak dibantu dengan bantuan yang seperlunya yang tidak jauh dari kemampuan anak yang saat ini telah dicapainya.
D. Teori Belajar Sosial Bandura
Menurut teori belajar sosial ini, peserta didik belajar terhadap suatu perilaku berdasarkan pemahaman mereka terhadap konsekuensi dari perilaku tersebut. Menurut teori yang dikembangkan oleh Albert Bandura ini, anak atau peserta didik itu meniru perilaku orang lain baik itu perilaku yang baik ataupun tidak baik.
Dalam teori ini ada dua konsep penting yaitu modelling atau proses meniru perilaku orang lain yang menurutnya pantas untuk ditiru dan self-efficacy atau persepsi atau penilaian tentang diri sendiri.
E. Teori Sistem Ekologi Bronfenbrenner
Teori perkembangan peserta didik yang selanjutnya adalah teori sistem ekologi yang dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner. Ia adalah pakar psikologi yang mengenalkan bahwa faktor dalam diri anak dan juga lingkungan dapat mempengaruhi perkembangannya.
Ada beberapa aspek lingkungan yang menurut teori ini dapat mempengaruhi perkembangan anak ataupun peserta didik, yaitu :
1. Mikrosistem
Adalah lingkungan terkecil yang berkenaan langsung dengan peserta didik. Orang yang berinteraksi dengan anak peserta didik secara langsung adalah termasuk dalam lingkungan ini. Contohnya seperti orang tua, guru, lingkungan sekolah, tempat bermain dan lain sebagainya.
2. Mesosistem
Adalah lingkungan mikrosistem yang berintaraksi satu sama lain. Seperti orang tua berkomunikasi dengan guru untuk mendiskusikan pola asuh dan sebagainya. Selanjutnya hal ini dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik.
3. Ekosistem
Adalah lingkungan yang tidak secara langsung dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak ataupun peserta didik. Seperti tempat kerja orang tua dsb. Apabila tempat kerja orang tua layak, memiliki waktu dengan anak dsb maka akan mempengaruhi perkembangan anak tersebut.
4. Makrosistem
Budaya, nilai, agama, tradisi, kebiasaan, kebijakan, dan segala sesuatu yang memiliki pengaruh terhadap lingkungan ekosistem, mesosistem, dan mikrosistem adalah termasuk dalam lingkungan makrosistem ini. Meskipun tidak memiliki pengaruh secara langsung namun lingkungan ini dapat mempengaruhi sekolah ataupun orang tua dalam perkembangan peserta didik dan anak-anaknya.
Penutup
Alhamdulillah, kita telah mempelajari apa saja teori perkembangan peserta didik menurut para ahli yang perlu diketahui oleh seorang guru.
Sebenarnya pentingkah mempelajari teori perkembangan bagi kita sebagai seorang guru?
Tentu saja penting!
Dengan kita mengetahui teori perkembangan peserta didik kita dapat menjalankan peran kita sebagai guru ataupun fasilitator belajar secara efektif sesuai kebutuhan peserta didik, tingkat kecerdasan peserta didik, dan juga minat peserta didik.
Dengan mempelajari teori perkembangan peserta didik kita dapat mempelajari apa saja kompetensi yang dimiliki oleh anak sesuai tahapan perkembangannya.
Dengan begitu kita dapat menentukan strategi yang tepat yang akan digunakan untuk menerapkan pembelajaran kepada para peserta didik kita sesuai tahapan perkembangan mereka.
REFRENSI :
- Perkembangan Peserta Didik (Edisi 3) oleh Nisa Felicia
