Teori Perkembangan Kognitif Menurut Piaget dan Vygotsky

Teori Perkembangan Kognitif

Teori perkembangan kognitif merupakan salah satu teori yang perlu diketahui oleh seorang guru ataupun pengajar. Mengapa demikian? Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perkembangan kognitif pada anak ataupun peserta didik itu berbeda pada setiap tahapannya. Kita tidak mungkin mengajarkan materi yang bersifat abstrak pada anak yang baru bisa berpikir konkret. Tidak mungkin pula kita mengajarkan baca tulis pada anak yang belum mengenal alpabet.

Oleh karena itu, sebagai seorang guru, Anda perlu memahami tahap perkembangan kognitif pada anak yang hendak Anda ajarkan. Tujuannya agar materi yang Anda ajarkan kepada anak dapat Anda terapkan dengan tepat.

Selain itu dengan mengetahui teori perkembangan peserta didik, Anda dapat menerapkan strategi pembelajaran dengan tepat. Pasalnya tidak semua anak itu sama dalam perkembangan kognitif mereka. Sehingga, mempelajari teori perkembangan kognitif pada peserta didik sangatlah diperlukan bagi Anda sebagai seorang guru ataupun pengajar.

Dalam dunia pendidikan, ada dua teori yang sering digunakan yaitu teori perkembangan kognitif menurut Piaget dan Vygotsky. Kedua teori tersebut tentunya memiliki karakter masing-masing yang berbeda. Meskipun demikian kedua teori tersebut saling melengkapi satu sama lain.

Teori perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh piaget cenderung bersifat universal. Sedangkan teori perkembangan kognitig yang dikembangkan oleh vygotsky bersifat variatif. Nah, seperti apakah penjelasan lengkap dari kedua teori tersebut? Mari kita pelajari bersama-sama!

A. Teori Perkembangan Kognitif Menurut Piaget

Teori perkembangan kognitif yang dikembangankan oleh Piaget disebut juga dengan teori konstruktivisme. Menurut Piaget, pengetahuan bukanlah sebuah kondisi, akan tetapi pengetahuan adalah proses. Pengetahuan adalah hubungan antara manusia dengan sesuatu yang diketahuinya.

Dalam proses menerima informasi, anak melakukan proses penerimaan informasi tersebut secara mandiri. Mereka memahami suatu pengetahuan melalui pengalamannya baik secara fisik maupun mental. Anak memiliki bagian aktif pada dirinya untuk memilih dan menafsirkan pengetahuan yang mereka terima.

Dalam teori perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh Jean Piaget ada istilah yang disebut dengan skemata. Skemata merupakan pengetahuan atau pemahaman dasar yang dimiliki oleh anak tentang lingkungan sekitarnya. Skemata-skemata yang mereka miliki ini akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Sebagai contoh, misalkan pada skemata awalnya seorang anak memahami bahwa mobil adalah sebuah besi berjalan yang memiliki roda empat. Skemata ini didapatkan oleh anak tersebut berdasarkan pengalamannya atau pengamatannya terhadap mobil sebelumnya. Seiring berjalannya waktu pemahaman anak tersebut tentang mobil mulai bertambah. Hal ini dikarenakan mereka telah mengalami pengalaman yang baru tentang mobil. Mereka mulai memahami bahwa ternyata di dalam mobil terdapat setir, gas, dan juga rem yang digunakan untuk mengendalikan laju mobil tersebut. Mereka juga mulai memahami bahwa mobil juga terdapat mesin dan bahan bakar yang membuatnya bisa berjalan.

Nah, proses pembangunan dan modifikasi skemata ini disebut dengan proses intelektual. Dalam proses ini terjadi yang disebut dengan istilah asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi adalah proses ketika anak memahami pengetahuan baru dengan skemata yang telah dimiliki sebelumnya. Sedangkan akomodasi adalah perubahan skemata yang sudah ada untuk memahami pengetahuan baru.

Menurut teori perkembangan kognitif piaget, perkembangan kognitif pada anak terdiri dari empat tahapan sebagai berikut :

1. Tahap Sensorimotor (0-2 Tahun)

Sensori adalah indra, sedangkan motor adalah gerak. Kedua hal inilah yang digunakan oleh anak untuk membangun atau mengkonstruksi pemahaman mereka terhadap lingkungan sekitar.

Mereka terlahir dengan memiliki refleks untuk berkomunikasi dengan sekitarnya. Refleks yang ditimbulkan adakalanya melalui stimulus. Namun ada pula refleks yang timbul dari latihan motorik mereka.

Pada tahap ini, bayi melakukan sesuatu bermula dari refleks, seperti menghisap, menggenggam, melihat, dan lain sebagainya. Pemahaman dasar terhadap lingkungan sekitar juga terus berkembang menjadi lebih kompleks seiring berjalannya waktu.

2. Tahap Praoperasional (2-7 Tahun)

Pada tahap ini, sensor dan motor bukan lagi satu-satunya alat utama yang anak gunakan untuk menambah pemahamannya.

Mereka memahami sesuatu melalui media atau representasi mental. Atau dalam arti lain anak memahami suatu obyek yang disimbolkan dengan obyek yang lainnya.

Sebagai contoh misalnya simbol angka 2 yang merepresentasikan dua jumlah obyek yang sama. Simbol angka 2 memang hanya sekedar simbol. Namun, pada tahap ini anak sudah mampu merepresentasikan simbol tersebut pada skemata yang telah dimilikinya.

Ada beberapa ciri khas pada tahap perkembangan ini, yaitu :

  • Egosentris : Anak hanya bisa melihat dari sudut pandang mereka sendiri
  • Pemikiran kaku : Anak cenderung melihat sesuatu dari tampilan luarnya atau satu sisi dan mengabaikan sisi yang lain.
  • Pemikiran semilogis : Anak mulai mengenal hubungan sebab akibat yang tidak logis.
  • Sosial kognitif terbatas : Anak hanya memahami sesuatu berdasar apa yang mereka alami.

3. Tahap Operasional Konkret (7-11 Tahun)

Pada tahap perkembangan ini anak telah mencapai kemampuan melakukan operasi yang bersifat konkret. Penggunaan logika pada anak sudah semakin baik pada tahap ini.

Kemampuan operasi sudah dapat terlihat saat mereka melakukan operasi matematika sederhana, seperti menambah, mengurangi, mengali, mengurutkan dan lain sebagainya.

Pada tahap operasional konkret anak mulai sadar hubungan mereka dalam keluarga, teman, dan juga lingkungan sosial yang lebih luas.

4. Tahap Operasional Formal (11-15 Tahun)

Pada tahap operasional formal, anak sudah memiliki kemampuan berpikir abstrak. Mereka juga sudah mampu berpikir logis dan menarik sebuah kesimpulan.

Selain itu anak juga sudah bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Yang mana kemungkinan tersebut adalah sesuatu yang bersifat abstrak.

Mereka juga sudah bisa membicarakan berbagai macam isu. Seperti isu sosial, politik, moral, agama dan lain sebagainya.

Pada tahap ini mereka juga sudah memiliki kemampuan untuk memandang dari sudut pandang yang berbeda atau sudut pandang orang lain. Tidak seperti tahap sebelumnya yang hanya memandang dari sudut pandang sendiri saja.

C. Teori Perkembangan Kognitif Menurut Vygotsky

Teori perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh Vygotsky disebut juga dengan teori sosiokultural. Menurut teori ini, perkembangan anak dipengarui oleh sosiokultural.

Artinya perkembangan kognitif pada anak dipengaruhi oleh interaksi sosial mereka dengan lingkungan sekitar, seperti orang tua, guru, dan orang lain yang memiliki kompetensi lebih tinggi dari pada anak.

Sehingga menurut teori ini, peran orang yang lebih kompeten sangatlah penting untuk menunjang perkembangan kognitif pada anak. Karena perkembangan mereka dipengaruhi oleh interaksi sosial mereka.

Ada dua konsep penting dalam teori perkembangan kognitif menurut vygotsky, yaitu : Zone of Proximal Development (ZPD) dan juga scaffolding.

1. Zone of Proximal Development

Dalam teori perkembangan kognitif Vygotsky ada konsep yang dikenal dengan istilsh Zone of Proximal Development (ZPD) atau zona perkembangan proksimal.

ZPD adalah semacam jarak antara sesuatu yang bisa dilakukan oleh anak secara mandiri dengan sesuatu yang bisa ia lakukan dengan bantuan orang lain.

Nah, untuk memberikan kompetensi baru pada anak, maka perlu disesuaikan dengan zona perkembangan proksimalnya.

Sebagai contoh misalkan ketika seorang anak ingin belajar membaca. Tidak mungkin anak tersebut langsung diajari membaca tanpa mengenal huruf terlebih dahulu, karena hal itu berada di luar ZDP-nya.

2. Scaffolding

Scaffolding adalah suatu bantuan belajar yang diberikan kepada anak. Scaffolding diberikan kepada anak dalam rangka membantu mereka untuk mencapai kompetensi tertentu.

Sebagai contoh seorang anak yang belajar berjalan. Pada mulanya ia tidak mampu berjalan apabila tidak diberikan bantuan. Setelah diberikan bantuan atau scaffolding barulah ia mulai mampu berjalan sendiri.

REFRENSI : Perkembangan Peserta Didik (Edisi 3) oleh Nisa Felicia, Ph.D.