Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Teori perkembangan kognitif piaget merupakan salah satu teori perkembangan yang paling sering digunakan dalam dunia pendidikan. Teori ini adalah teori yang dikenalkan oleh Jean Piaget. Ia merupakan salah seorang psikolog asal Switzerland yang terkenal dengan berbagai penelitiannya di dalam dunia perkembangan anak.
Jika Anda adalah seorang guru maka Anda sangat perlu mempelajari teori ini. Apalagi teori perkembangan kognitif Piaget merupakan teori yang banyak digunakan dalam dunia pendidikan. Dengan memahami teori perkembangan kognitif, Anda diharapkan bisa menjadi guru yang lebih baik dari pada sebelumnya. Karena dengan memahami teori ini maka Anda akan terbantu dalam memahami cara berpikir siswa sehingga Anda dapat mengambil langkah yang tepat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
A. Konsep Skemata dalam Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Dalam teori perkembangan kognitif Piaget, terdapat sebuah konsep yang disebut dengan istilah skemata. Apa itu skemata? Skemata adalah sebuah pemahaman dasar yang dimiliki oleh anak terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya. Menurut piaget, perkembangan kognitif adalah perkembangan dari skemata-skemata tersebut. Dengan skemata maka anak dapat menafsirkan pengalaman mereka seiring bertambahnya pengetahuan yang mereka terima.
Setiap anak memiliki skemata (pemahaman dasar) yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan pengalaman yang mereka miliki juga berbeda-beda. Agar lebih mempermudah pemahaman, mari perhatikan contoh skemata berikut ini :
Skemata yang dimiliki oleh Budi tentang rumah adalah sebuah bangunan yang berbentuk segi empat dan memiliki sebuah atap dengan bentuk segitiga di atasnya. Di bagian tembok rumah tersebut terdapat pintu dan jendela yang terbuka.
Menurut skemata yang dimiliki oleh Desi, rumah adalah sebuah bangunan yang di depannya terdapat halaman yang sangat luas dan di depannya terparkir mobil serta terdapat pohon yang rindang.
Dari skemata yang dimiliki oleh Budi dan Desi tersebut kita bisa melihat bahwa terdapat perbedaan pemahaman dasar tentang rumah yang dimiliki oleh Budi dan Desi. Hal ini dikarenakan mereka memiliki pengalaman yang berbeda terkait pengetahuan mereka tentang rumah. Bisa jadi Budi mengetahui rumah dari gambar-gambar yang ada di komik atau buku cerita. Sedangkan Desi, bisa jadi ia mengetahui rumah dari foto-foto rumah yang ditunjukkan oleh orang tuanya.
Ketika seorang anak memperoleh skemata-skemata baru maka mereka akan melakukan organisasi untuk beradaptasi dengan pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Dalam teori perkembangan kognitif piaget, organisasi terjadi melalui dua cara, yaitu :
- Asimilasi
- Akomodasi
Apa itu asimilasi? Asimilasi adalah proses yang dialami oleh anak ketika mereka menafsirkan pengalaman atau pengetahuan baru mereka dengan skemata yang mereka miliki.
Apa itu akomodasi? Akomodasi adalah modifikasi skemata yang sebelumnya sudah dimiliki untuk memahami pengetahuan baru yang mereka terima.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif yang dialami oleh anak dibantu dengan proses asimilasi dan akomodasi yang saling bekerja sama. Tujuan akhirnya adalah agar anak itu beradaptasi dan mencapai keseimbangan ekuilibrium.
B. Pendekatan Tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Dalam teori perkembangan kognitif piaget, perkembangan kognitif anak dibagi dalam beberapa tahap. Teori tahap perkembangan kognitif piaget memiliki lima ciri-ciri sebagai berikut :
- Setiap tahap merupakan satu kesatuan keseimbangan ekuilibrium yang terstruktur. Seorang anak akan memperoleh pengetahuan yang berbeda di setiap tahap perkembangannya sehingga menghasilkan skemata yang berbeda pula. Dalam teori Piaget, perubahan skemata bersifat kualitatif sehingga tidak dapat diukur dengan angka.
- Setiap tahap perkembangan kognitif akan berkesinambungan dengan tahap sebelumnya. Pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya akan tetap ada pada tahap perkembangan selanjutnya meskipun akan mengalami pertambahan atau bahkan modifikasi.
- Setiap tahap perkembangan yang dialami oleh anak akan terjadi secara berurutan dan tidak bisa tertukar serta tidak ada tahap yang terlewati. Artinya setiap tahapan akan dialami oleh anak seiring berjalannya waktu.
- Tahapan-tahapan perkembangan dalam teori Piaget bersifat universal. Artinya setiap anak di belahan dunia manapun akan melewati tahapan yang sama.
- Setiap tahap perkembangan kognitif yang dilewati akan memiliki prosesnya masing-masing. Ketika anak akan memasuki tahap berikutnya maka akan ada persiapan untuk memasuki tahapan baru. Oleh karena itu, akan selalu ada trial and error di setiap tahap yang dilewati.
C. Tahap-tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Berikut merupakan tahapan-tahapan perkembangan kognitif yang dialami seorang anak menurut teori piaget :
1. Sensorimotor (0 - 2 Tahun)
Sesuai namanya yaitu sensori yang berarti indra dan motor berarti gerak. Pada tahap ini, indra dan gerak adalah dua hal yang digunakan oleh bayi untuk memahami lingkungan mereka. Sebagai contoh ketika mulut bayi didekatkan kepada putinng ibunya maka ia akan mencari-cari puting tersebut secara refleks agar memperoleh ASI dari ibunya. Refleks yang bayi alami adakalanya karena bayi tersebut melatih kemampuan motor atau gerak mereka.
2. Tahap Preoperasional (2 - 7 Tahun)
Tahap praoperasional adalah tahap di mana seorang anak mulai bisa memahami suatu objek yang disimbolkan dengan objek lain. Pada tahap ini, anak sudah mampu membangun pemahaman tentang hubungan sebab akibat, objek, ruang, dan waktu melalui media. Sebagai contoh ketika seorang ibu memperagakan gerakan yang mirip dengan seekor burung kepada anaknya maka dengan mudah anak dapat mengenalinya. Hal ini dikarenakan sang anak telah memiliki skemata tentang burung sebelumnya. Sehingga ketika ada suatu media yang mirip dengan skemata yang telah diketahui sebelumnya maka anak dapat dengan mudah memahaminya.
Ada beberapa ciri khas yang dimiliki pada tahap preoperasional, yaitu sebagai berikut :
- Egosentris : Yaitu ketidakmampuan anak membedakan sudut pandang dirinya dengan sudut pandang orang yang berada di sekitarnya. Mereka hanya mampu melihat dari sudut pandang mereka sendiri.
- Sentrasi : Adalah ketidakmampuan anak melihat sesuatu dari berbagai sisi. Artinya anak hanya mampu melihat sesuatu dari tampilan luar atau dari sisi tertentu dan mengabaikan sisi yang lainnya.
- Pemikiran Semilogis : Yaitu anak sudah mulai mengenal hubungan sebab akibat yang tidak logis. Mereka beranggapan bahwa benda mati memiliki sifat seperti benda hidup. Hal ini sering dijumpai tatkala anak bermain boneka. Mereka menganggap bahwa boneka tersebut bisa melakukan hal-hal yang dilakukan manusia.
- Keterbatasan Sosial Kognitif : Pada tahap ini, kemampuan sosial kognitif pada anak masih terbatas. Hal ini dikarenakan mereka memahami sesuatu hanya berdasarkan dari apa yang pernah mereka lihat sebelumnya atau pernah merka alami.
3. Tahap Operasional Konkret (7 - 11 Tahun)
Pada tahap ini, anak sudah mampu melakukan operasi yang bersifat kongkret. Pada tahap operasional kongkret, anak sudah cukup baik dalam penggunaan logikanya. Selain itu, mereka juga sudah memiliki kemampuan berpikir terbalik.
Kemampuan melakukan operasi juga tampak pada bagaimana anak melakukan operasi matematika sederhana, seperti melakukan penjumlahan, mengurutkan, membagi, dan lain sebagainya. Tentu ketika kita duduk di kelas 2 atau kelas 3 kita pernah mendapatkan pelajaran matematika sederhana. Hal ini dikarenakan pada tahap ini anak telah dianggap mampu untuk mempelajari materi tersebut.
Meskipun anak telah mampu melakukan operasi yang bersifat kongkret, mereka belum mampu memikirkan konsep yang bersifat abstrak. Oleh karena itulah anak-anak pada usia ini tidak diajarkan konsep-konsep materi yang bersifat abstrak.
4. Tahap Operasional Formal (11 - 15 Tahun)
Tahap ini merupakan rangkaian terakhir dari tahap perkembangan kognitif anak menurut teori Piaget. Pada tahap operasional formal, kemampuan memahami dan memikirkan hal-hal yang abstrak telah dimiliki oleh anak. Selain itu, anak juga sudah memiliki kemampuan berpikir logis, menganalisis hingga menarik suatu kesimpulan.
Oleh karena itu, jika anak sudah mencapai tahap kognitif ini maka anak sudah mampu memikirkan masa depan, pekerjaan, bahkan peran sosial. Mereka juga sudah mampu membicarakan isu-isu yang bersifat abstrak seperti isu moral, agama, dan politik dan mampu melihatnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda.
D. Kritik Terhadap Teori Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Berikut beberapa kritik yang ditujukan pada teori perkembangan kognitif Piaget :
- Piaget meremehkan kemampuan kognitif bayi, balita, dan murid-murid TK. Piaget hanya berfokus pada kompetensi-kompetensi yang dimiliki pada setiap tahap perkembangan yang menurut Piaget adalah sebagai penentu performa kognitif pada anak. Jika anak tidak bisa menyelesaikan suatu masalah maka menurut Piaget anak tersebut tidak memahami konsepnya.
- Piaget tidak memberikan perhatian kepada pengaruh sosial dan budaya pada perkembangan kognitif anak. Padahal, lingkungan sosial dan budaya yang berbeda juga memengaruhi pemahaman anak terhadap lingkungan di sekitar mereka. Selain memengaruhi perkembangan kognitif, budaya ternyata juga memengaruhi kecepatan berpikir pada anak.
