Aspek Perkembangan Peserta Didik
Pernahkah Anda membandingkan bagaimana rasanya mengajar siswa SD dengan siswa SMP? Jika pernah, perbedaan apa saja yang Anda rasakan?
Jika Anda pernah mengajar di dua jenjang pendidikan yang berbeda maka tentu Anda akan merasakan banyak perbedaan. Mulai sikap dan perilaku siswa, tingkat kecerdasan, keadaan emosi siswa, kemampuan motorik siswa, dan lain sebagainya. Hal ini terjadi dikarenakan peserta didik kita mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia. Mereka berkembang dari bayi menuju kanak-kanak, dari kanak-kanak menuju remaja, dari remaja menuju dewasa, dan seterusnya.
Sebagai seorang guru, kita tidak bisa memperlakukan peserta didik kita layaknya robot yang statis dan tidak mengalami perkembangan. Apalagi kita beranggapan bahwa peserta didik kita seperti material yang mudah dicetak dengan mesin cetak sesuai apa yang kita inginkan. Oleh karena itu, guru wajib memahami konsep perkembangan peserta didiknya agar tidak terlalu kaku dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
Salah satu hal yang perlu dipahami oleh seorang guru terkait konsep perkembangan peserta didik adalah aspek-aspek perkembangan peserta didik. Dengan memahami aspek-aspek perkembangan peserta didik diharapakan guru dapat memahami bahwa perkembangan yang terjadi pada peserta didik kita tidak hanya pada satu aspek saja. Akan tetapi perkembangan yang mereka alami terdiri dari berbagai macam aspek. Dengan begitu, guru dapat menerapkan metode dan strategi pembelajaran yang tepat dengan memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai aspek perkembangan mereka.
Perlu diketahui bahwa aspek-aspek tersebut juga tidak berdiri sendiri, akan tetapi antara satu aspek dengan yang lainnya itu saling berkaitan dan saling memengaruhi satu sama lain. Memahami aspek-aspek ini akan membantu kita untuk mendapatkan wawasan yang lebih baik tentang bagaimana peserta didik mengalami perkembangan sepanjang hidup mereka.
Lantas apa sajakah aspek-aspek perkembangan peserta didik yang perlu kita pahami? Berikut merupakan 3 aspek perkembangan peserta didik :
1. Aspek Biologis/Fisik
Berapa umur Anda saat ini? Dua puluh? Tiga puluh? Atau empat puluh? Apa perbedaan diri Anda saat ini dengan diri Anda sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu? Jika ada, coba cek foto Anda sepuluh tahun atau dua puluh tahun yang lalu! Pasti Anda akan menemukan sebuah perbedaan, bukan?
Baca Juga : Prinsi Perkembangan Peserta Didik Menurut Pakar Psikologi
Kita semua dan peserta didik kita pasti mengalami perkembangan fisik seiring bertambahnya umur karena kita semua adalah manusia. Perkembangan fisik ini mencakup tinggi badan, berat badan, ukuran otot, tulang, sistem organ seperti volume otak, paru-paru, pencernaan dan lain sebagainya. Perkembangan fisik tidak hanya meliputi volume dan bentuk tubuh saja, akan tetapi juga meliputi kemampuan motorik halus dan motorik kasar seperti berjalan, berlari, melompat, dan lain sebagainya.
Pada tahapan remaja, perubahan fisik akan terlihat secara signifikan seperti perkembangan organ reproduksi, tumbuhnya rambut di area tertentu, perubahan suara pada laki-laki, dan lain sebagainya. Aspek perkembangan fisik ini akan terus berlanjut sepanjang hidup hingga dewasa dan usia lanjut. Pada saat usia lanjut, manusia akan mengalami penurunan kemampuan fisik seiring bertambahnya umur.
Perkembangan fisik ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti genetik yang diwariskan orang tua, makanan atau gizi, gaya hidup, olahraga, hormon, dan lain sebagainya.
2. Aspek Kognitif
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa siswa SD tidak diajarkan pelajaran fisika, kimia, dan biologi seperti siswa SMP?
Jawabannya adalah karena tahapan perkembangan kognitif yang dicapai oleh siswa SMP berbeda dengan siswa SD. Siswa SMP sudah memiliki kemampuan berpikir abstrak, sedangkan siswa SD baru bisa berpikir secara kongkret. Oleh sebab itu, materi pelajaran yang bersifat abstrak tidak diajarkan kepada siswa SD karena kemampuan kognitif mereka belum sampai pada tahap itu.
Lalu, apa itu perkembangan kognitif? Perkembangan kognitif adalah perkembangan cara berfikir, kecerdasan, dan perkembangan bahasa seseorang. Perkembangan kognitif ini mencakup kecerdasan matematis, kecerdasan bahasa, kemampuan mengolah dan memproses informasi, kemampuan berpikir abstrak, kemampuan mengingat, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan memecahkan masalah, dan lain sebagainya.
Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya bahwa aspek perkembangan pada anak tidak berdiri sendiri-sendiri. Akan tetapi antara satu aspek dengan aspek yang lainnya memiliki pengaruh satu sama lain. Salah satu aspek yang memengaruhi aspek perkembangan kognitif seorang anak adalah aspek fisik atau aspek biologis. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memperhatikan perkembangan fisik anaknya dengan memberinya makanan dan asupan gizi yang cukup.
Selain itu, kemampuan berbahasa peserta didik ternyata juga turut andil dalam memengaruhi perkembangan kognitif mereka. Menurut Vygotsky, pemikiran dan kemampuan berbahasa anak pada akhirnya akan saling memengaruhi.
3. Aspek Sosioemosional
Masih ingatkah Anda kapan pertama kali Anda menyukai lawan jenis?
Saat mencapai usia remaja, kita tentu pernah merasakan bagaimana rasanya menyukai atau tertarik dengan lawan jenis. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa ketertarikan ini tidak kita alami saat kita masih di usia kanak-kanak. Hal ini menunjukkan bahwa seiring bertambahnya umur kita akan merasakan perubahan-perubahan kepribadian, emosi, dan juga cara kita dalam berinteraksi sosial. Perubahan-perubahan inilah yang disebut dengan perkembangan sosioemosional.
Perkembangan sosioemosional ini mencakup perubahan-perubahan interaksi individu dengan orang di sekitarnya, baik itu dengan teman sebayanya, orang tuanya, lawan jenisnya, ataupun masyarakat lingkungannya. Aspek ini juga meliputi perubahan-perubahan kepribadian peserta didik dan juga pengendalian emosi.
Penutup
Telah kita pelajari bersama bahwa aspek perkembangan peserta didik meliputi aspek biologis, kognitif, dan sosioemosional. Ketiga aspek tersebut tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Bahkan ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan saling memengaruhi satu sama lain. Sebagai contoh, bayi yang bisa tersenyum ketika diajak bercanda oleh ibunya adalah hasil dari kemampuan otot dan syaraf (biologis), kemampuan memahami maksud ibunya (kognitif), dan emosi yang dirasakannya (sosioemosional).
REFRENSI : Perkembangan Peserta Didik (Edisi 3) oleh Nisa Felicia
