Karakteristik Pembelajaran Tematik

Karakteristik Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang disusun berdasarkan tema-tema tertentu yang ditinjau berdasarkan berbagai mata pelajaran. Misalkan kita ingin mengangkat atau membahas tema tentang “Keluarga”. Maka kita bisa mengaitkan tema ini ke dalam beberapa mata pelajaran seperti matematika, bahasa Indonesia, dan juga kesenian.

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang diterapkan pada kurikulum 2013 yang menekankan pada fenomena alam, sosial, seni dan budaya. Latar belakang munculnya pembelajaran tematik ini berasal dari gagasan filosofis yang menekankan bahwa kreativitas anak terbentuk dari pengalaman langsung yang mereka alami di dunia nyata.

Dengan menerapkan pembelajaran tematik, siswa atau peserta didik diharapkan dapat menghayati pengetahuan yang mereka dapatkan dari lingkungan sekitarnya dan juga yang mereka dapatkan dari apa yang mereka alami. Selain itu dengan menerapkan pembelajaran tematik mereka juga diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka melalui pengamatan mereka terhadap lingkungannya.

Nah, pembelajaran tematik ini tentunya memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan pembelajaran yang lainnya. Apa sajakah karakteristik pembelajaran tematik itu? Mari kita bahas bersama!

1. Berpusat pada Siswa

Karakteristik pembelajaran tematik yang pertama adalah bahwa pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada pembelajaran tradisional, kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah berpusat pada guru. Guru benar-benar menjadi pusat informasi pada pembelajaran tradisional. Guru mendikte murid-muridnya di depan kelas tentang materi yang harus mereka pelajari di hari itu. Sehingga pada pembelajaran tradisional siswa ataupun peserta didik cenderung pasif dan kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Mereka hanya dijejali dengan pelajaran dan ceramah dari gurunya yang menjadi pusat dalam pembelajaran.

Nah, berbeda halnya dengan pembelajaran tematik. Justru pada pembelajaran tematik karakteristiknya berkebalikan dengan pembelajaran tradisional.

Pada pembelajaran tematik, pembelajaran yang dilaksanakan adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru bukan satu-satunya sumber informasi di depan kelas. Dan siswa juga tidak hanya menjadi pendengar yang pasif. Dalam proses belajar mengajar, peran guru dalam pembelajaran tematik adalah sebagai fasilitator yang memudahkan siswa dalam proses belajar. Bahkan guru juga ikut berpartisipasi belajar bersama siswa.

Pada pembelajaran tematik, siswa dituntut untuk aktif dalam proses belajarnya. Mereka aktif mengamati dan mengeksplorasi apa yang menjadi tema pada pelajaran yang mereka pelajari. Tugas guru adalah membantu siswa dalam belajar dengan mengarahkan mereka untuk mempelajari apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya sesuai dengan tema yang diangkat. Guru dapat memberikan kebebasan lebih luas kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuannya disamping memberikan kewajiban kepada mereka.

2. Siswa Belajar Melalui Pengalaman Langsung

Karakterisitik berikutnya dari pembelajaran tematik adalah bahwa siswa belajar langsung dari pengalaman yang mereka alami.

Berbeda dengan pembelajaran tradisional yang hanya mengandalkan buku sebagai satu-satunya sumber belajar. Bahkan tak jarang sumber belajar hanya ceramah dari gurunya saja. Pada pembelajaran tradisional anak ataupun siswa diharuskan membaca buku yang disediakan untuk mereka atau mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh guru.

Bukan berarti metode ceramah dan membaca buku itu salah, akan tetapi apabila hal itu dijadikan satu-satunya metode maka akan membuat pemahaman mereka terhadap materi yang mereka pelajari dirasa kurang bermakna. Bahkan pembelajaran yang berlangsung akan cenderung terasa membosankan dan kurang menyenangkan bagi peserta didik. Hal ini dikarenakan mereka tidak mengalami langsung apa yang mereka pelajari.

Nah, dalam pembelajaran tematik, sumber belajar siswa adalah dunia nyata. Selain ceramah guru dan buku pegangan yang dijadikan pedoman dalam pembelajaran, mereka juga menjadikan pengalaman mereka dan lingkungan sekitar mereka sebagai sumber belajar.

Misalkan siswa belajar tentang tema “Hobiku”. Maka mereka akan mempelajari materi tersebut dari hobi yang biasa mereka lakukan di dalam kehidupan nyata mereka. Siswa itu pada awal mula perkembangannya baru bisa memahami hal-hal yang kongkrit. Mereka akan kesulitan apabila diajarkan hal-hal abstrak yang belum pernah mereka alami. Sehingga dengan belajar melalui pengalaman langsung, diharapkan apa yang mereka pelajari menjadi lebih bermakna.

Selain itu dengan menerapkan pembelajaran tematik siswa bisa lebih menghayati apa yang mereka pelajari. Bahkan dengan belajar dari pengalaman langsung sangat memungkinkan bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan mereka dari tema yang mereka pelajari.

3. Pemisahan Mata Pelajaran Tidak Begitu Terlihat

Masih ingatkah Anda dengan mata pelajaran matematika? Bahasa indonesia? IPA? Dan IPS? Tentu masih ingat bukan? Pemisahan-pemisahan mata pelajaran tadi adalah karakteristik pembelajaran dari kurikulum yang lama. Nah, karakteristik yang ada pada pembelajaran tematik berbeda dengan karakteristik pembelajaran yang digunakan pada kurikulum yang lama.

Pada kurikulum lama, perbedaan antara satu mata pelajaran dengan lainnya begitu mencolok dan terlihat sekat-sekatnya. Seakan-akan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya tidak ada kaitannya sama sekali.

Adapun karakteristik pada pembelajaran tematik maka pemisahan antar satu mata pelajaran tidak begitu terlihat. Karena yang diangkat pada pembelajaran tematik adalah tema apa yang akan dipelajari, bukan mata pelajaran apa yang dipelajari.

Dengan mengangkat tema tertentu, anak akan lebih mudah dalam menyerap materi. Hal ini dikarenakan tema-tema yang dijadikan sebagai pembahasan berkaitan dengan apa yang mereka alami dalam keseharian mereka. Seperti tema tentang hujan, keluarga, hobi, teman, ruang kelas, kebun, dan lain sebagainya.

Nah, karena dalam pembelajaran tematik yang menjadi pembahasan pokok adalah tema tertentu maka tidak dianjurkan untuk menampakkan pemisahan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya. Meskipun tema yang diangkat pada akhirnya akan dikaitkan dan dintegrasikan dengan mata pelajaran, namun tetap yang terlihat adalah tema yang dipelajari, bukan mata pelajarannya.

4. Pembelajaran Bersifat Fleksibel

Salah satu keunikan dari karakteristik pembelajaran tematik adalah pembelajarannya yang dapat dilakukan secara fleksibel. Mengapa bisa demikian? Sebagaimana pengertiannya, pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dimaknai atau disusun berdasarkan tema, bukan berdasarkan mata pelajaran. Maka pembelajaran tematik dapat dilakukan dengan fleksibel.

Fleksibilitas pembelajaran tematik dapat dilakukan mulai dari tahap perencanaa sampai pada tahap evaluasi. Misalkan fleksibilitas pada tahap perencanaan : Tema yang diangkat atau ditentukan dapat disesuaikan dengan perkembangan peserta didik, minat peserta didik, lingkungan peserta didik, kemampuan peserta didik dan juga berbagai faktor lainnya.

Pada tahap pelaksanaan pun pembelajaran tematik juga dapat dilakukan dengan fleksibel. Misalkan tema yang menjadi pembahasan pokok adalah tentang “Benda langit”. Menurut perencanaan pembelajaran yang sudah dibuat benda langit pertama yang seharusnya dibahas adalah matahari. Namun setelah diobservasi, ternyata siswa lebih menyukai bintang dibandingkan matahari. Maka pembelajaran bisa dimulai dengan membahas bintang terlebih dahulu.

Selain itu pembelajaran tematik yang memiliki karakteristik fleksibel ini juga dapat memungkinkan pengembangan dari tema yang menjadi pokok bahasan. Misalkan pembahasan yang menjadi pokok bahasan adalah tentang air. Awalnya siswa hanya mempelajari fungsi air. Karena siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan pengetahuannya akhirnya pembahasannya bisa sampai pada bahaya air kotor bagi kehidupan.

Demikian pula fleksibilitas pada tahap evaluasi. Guru dapat menerapkan berbagai macam cara untuk mengevaluasi pembelajaran. Guru tidak harus menggunakan tes tertulis sebagai satu-satunya cara dalam mengevaluasi pembelajaran. Inilah fleksibilitas dalam pembelajaran tematik. Dengan karakteristik seperti ini maka diharapkan peserta didik memiliki kreatifitas yang lebih jika dibandingkan mereka belajar dengan cara tradisional.

5. Menggunakan Prinsip PAKEM

Karakteristik pembelajaran tematik selanjutnya adalah menggunakan prinsip PAKEM. Apa itu PAKEM? PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Prinsip PAKEM ini harus diterapkan pada pembelajaran tematik.

Aktif berarti siswa aktif berpartisipasi dalam mengikuti pembelajaran. Aktif disini bukan hanya terbatas pada kegiatannya yang aktif. Akan tetapi mereka juga aktif dalam berfikir, aktif dalam mengembangkan pengetahuan mereka lebih luas lagi, dan juga aktif dalam menyelesaikan masalah-masalah belajar yang mereka alami.

Kreatif berarti keahlian menciptakan hal-hal baru dengan cara menggabungkan hal-hal yang sudah ada. Dengan kemampuan berfikir kreatif ini diharapkan permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran dapat teratasi.

Sedangkan efektif berarti menimbulkan efek. Artinya pembelajaran tematik yang dilaksanakan haruslah menimbulkan efek pada peserta didik, baik itu terhadap aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Sehingga pembelajaran yang dilaksanakan tidak sia-sia dan penuh makna.

Adapun menyenangkan berarti pembelajaran tematik yang dilaksakana dapat membuat peserta didik memiliki rasa senang terhadap kegiatan belajar dan juga peserta didik memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.